Manusia diberi akal pikiran oleh sang Pencipta untuk digunakan sebaik-baiknya. Ini mungkin faham yang diterima oleh hampir setiap manusia. Interpretasi dari 'digunakan' ini yang sering menjadi perdebatan. Sampai seberapa jauh sih akal dan pikiran ini boleh dipakai oleh manusia?
Kerjaan saya sehari-hari sangat erat hubungannya dengan yang namanya "perencanaan". Sering saya lihat, proyek yang direncanakan dengan sangat matang, lengkap, hati-hati, diawasi dan dikerjakan oleh manusia dan peralatan yang canggih, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan (kalo tidak schedule nya mundur, budget bengkak, ato spec nya meleset). Ada apa ini?
Ternyata, akal dan pikiran manusia masih belum mampu mengeliminasi semua resiko yang akan dihadapi pada saat proses eksekusi proyek (walaupun sudah ada risk mitigation plan yang canggih). Ada satu faktor yang ikut menentukan (dan malah sangat menentukan) apakah proyek tersebut akan sukses atau tidak. Dia-lah sang Maha Menentukan, dimana mungkin less than 1% kesuksesan dari proyek ditentukan dari perencaan yang matang, dan 99% lebih adalah kuasa-Nya. Tetapi, tentunya ada hubungan antara usaha 1% tsb dengan impaknya terhadap yang 99% tadi. Jika si 1% dilaksanakan sesuai dengan perintah-Nya, yang 99% akan mengikuti. Tp kalau yang 1% nya udah coba-coba meniadakan sifat Yang Maha Kuasa", jangan coba-coba 99% nya akan ikut.
Belum pernah saya liat di dalam laporan RCFA (Root Cause Failure Analysis), disebutkan bahwa team lupa meminta ijin dan blessing-Nya sebelum proyek dimulai sehingga terjadi delay atau over-budget, atau ada accident. Inilah yang sering pelatih saya sebut dengan KEMINTER (too smart - in wrong direction).
Jadi kalau kita jujur dan memang mengakui keberadaan Tuhan, Dzat yang Maha segala-galanya, sebetulnya proses perencanaan tanpa melibatkan Tuhan itu useless.
Analogi sederhana. Kalo kita mau membuat proyek, minta dukungan (kasarnya beking) dari bank. Kalo tiba2 bank nya collaps, kita mau bilang apa. Tp kalo dukungannya langsung dari yang Maha, ya silahkan di jawab sendiri. Pilih mana.
Sebagai manusia, kita harus bisa menempatkan akal pikiran kita, karena pada akhirnya kita akan sadar bahwa kita sebagai manusia itu tidak mampu apa-apa tanpa pertolongan-Nya dan bala tentaranya yang diutus membantu kita.
Wednesday, April 2, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)