Tuesday, November 27, 2007

Cuci piring

Beberapa hari terakhir ini, sedang hangat-hangatnya dibahasa mengenai 'curhat' pak SBY mengenai 'cuci piring'. Dari sekian publikasi, kalau boleh saya intisarikan adalah pak SBY cs sudah bekerja keras siang malam membereskan berbagai permasalahan yang ditinggalkan oleh pendahulunya.

(pak, kalau gak mau capek, kenapa dulu ngojok-ngojokin diri kampanye untuk jadi presiden?)

Kalau mau mempersempit ruang lingkup, kita bisa bercermin kepada diri sendiri. Sudahkah kita 'mencuci' piring-piring kita bekas pesta-pesta terdahulu? Di sini bisa di-interpretasi-kan mencuci dengan tiga makna:
- mencuci dalam arti membereskan permasalahan
- mencuci dalam arti menyembunyikan permasalahan
- mencuci dalam arti memecahkan permasalahan

mencuci = membereskan
Ini yang sepatutnya dikerjakan oleh manusia yang mengaku 'berbudi-pekerti' dan 'berahlak', di mana manusia akan menyetop perbuatan jelek, berubah menjadi baik dan meningkatkan kebaikan-kebaikan tersebut.

mencuci = menyembunyikan
Ini ibaratnya kita nyapu di rumah, tapi sampahnya disembunyikan di suatu tempat (di bawah karpet misalnya.... ayooo ngaku aja jek! we did it many times). Ini yang sering kali mendatangkan bom waktu.

mencuci = memecahkan
Saya baru sadar beberapa tahun terakhir ini, kata-kata "memecahkan masalah" sering digunakan dibandingkan "menyelesaikan masalah". It's totally different meaning. Perhaps people makes an analogy of "solve the problem" and "break the secret". If the approach is : problem = secret, than "solve" = " break", then we will end up with lots of small problems.

Dari sekian asumsi, silahkan dipilih mana yang paling cocok. Yang patut menjadi catatan adalah, proses 'pencucian' tidak otomatis membuat apa yang sudah ditinggalkan menjadi 'bersih' (bersih ini = dilupakan).

Bisa diambil contoh, di satu chain restoran di Indonesia, baru-baru ini di'isu'kan bahwa makanannya mengandung 'kecoa' (foto nya dilampirkan juga sih, jadi apa masih isu ato ndak, terserah masing-masing deh). Nah piring yang difoto bisa dicuci bersih sehingga bekas kecoa nya akan hilang. Tapi akankah orang-orang melupakan apa yang dulu pernah terjadi di piring itu.

Mistakes can be forgiven, but it couldn't be forgotten... kalau bisa dilupakan, kenapa diciptakan neraka oleh Tuhan?

No comments: