Malam minggu lalu, saya berkunjung ke pernikahan saudara saya di daerah kemang. It's a good party eventhough the food was run - out. Anyway, akhirnya gue bareng istri nyambangin restoran di sekitar kemang dan secara gak kebetulan (saya ga percaya dengan kata "kebetulan) bertemu dengan rekan lama di bandung. Omong sana omong sini, sampailah cerita adik angkatan saya yg saat ini sedang naik daun menjadi sutradara muda. Kawan saya ini cerita bahwa si sineas muda ini cukup idealis dengan ide2 nya, sehingga rela saja kelaparan (tidak punya uang untuk makan) demi mempertahankan idealismenya.... Menarik.
Malamnya, saya secara tidak kebetulan juga, bertemu dengan mantan pengawal RI 1 di salah satu rumah paman saya. Ngobrol punya ngobrol, sampailah pada cerita bagaimana para pejabat2 itu berhasil dalam meniti karir. Biarpun sudah bintang 4, kalau ketemu yg lebih atas lagi, bawain sendal pun rela (kasarnya begitu). Masih ada langit di atas langit... Menarik.
Dari kedua cerita di atas yang saya alami kurang dari 4 jam (dan dua2nya cerita nyata) seberapa pantas sih kita mempertahankan idealisme kita. Berapa sih harga diri kita? kalo mau dinominalkan (seperti kerjaan saya sehari2, membuat sesuatu yg intangible menjadi tangible dan akhirnya dibuat slides dalam power point dilihat dalam skala NPV atau ROR). Saya yakin, tidak semua dari kita bisa menyebutkan nominal dengan pasti. Jadi apakah pantas kita mempertahankan harga diri mati2an, sedangkan kita sendiri ga tau harga kita berapa?
Yang pas adalah menempatkan diri kita pada posisinya. Posisi kita adalah mahluk Ciptaan Tuhan. Tempatkanlah pada posisinya. Hargai perbedaan. Kalau memang Tuhan merestui dengan ide idealisme sang sineas tadi, tentunya DIA tidak akan membuat sineas kita kelaparan...Karena Tuhan adalah Dzat yang Maha Pengashi dan Maha Penyayang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment