Wednesday, October 3, 2007

Marry & Divorce

Topik yang menarik untuk diangkat. Agak lama pemikirannya karena harus hati2 menuangkan dalam bentuk tulisan (untung dapet waktu bbrp hari ngelamun di KL sambil ngeliatin Twin Tower malem2 dari kamer hotel).

Waktu pas mau merit, pasti ada yg diharapkan dari suatu perkawinan. Dapet pasangan hidup yang cocok, susah senang bersama (hwalah!!!), bisa sharing, saling mengisi, saling mencintai. Ada juga yang langsung paranoid. Tahan gak ya hidup sama orang yg sama bertahun2, nanti gimana ya apa dia akan sukses ato melarat. Nanti dia main serong gak ya (hehehe... ayo yg suka paranoid, ngaku aja!)

Menurut pendapat pribadi saya (sekali lagi ini pendapat pribadi, kalo mau punya pendapat lain, monggo...). Marriage is NOT "to give and to take" games. It's a "to give" rule. You give and never asked what you'll get back from it.

Dan sekali lagi, menurut pendapat saya, itulah makna dari perkawinan. Proses pembelajaran untuk menjadikan diri "ikhlas". Makna yang lain adalah proses pembelajaran untuk menjadi mahluk yang "bertanggung jawab". Bertanggung jawab kepada Sang Khalik, Maha Pencipta, yang telah menitipkan "pasangan" kepada kita, untuk yang laki - bertanggung jawab dengan menafkahi, untuk yang perempuan - bertanggung jawab dengan berbakti.

Kedua2nya akan bertambah tanggungjawabnya kalo Tuhan menitipkan anak (tanggung jawab utk merawat, mendidik dan membesarkan). Mungkin ini dicontohkan dalam hubungan antara anak dan orang tua, di mana kejelekan / keburukan anak akan selalu (diusahakan) untuk ditutupi oleh orang tua. Jadi diibaratkan, ambilah contoh hubungan antara anak & orang tua untuk diterapkan ke dalam kehidupan perkawinan.

Kenapa banyak terjadi perceraian? Karena konsep to take and to give tadi itu dipakai sehingga perasaan "sudah memberi tapi kok belum menerima" menjadi makanan sehari2. Ditumpuk dari hari ke hari, akhirnya meledak (bisa dengan marah, nangis, mutung, etc).

Selain itu, manusia dalam hubungannya dengan manusia masih menerapkan konsep "mencintai" kepada sesamanya, padahal manusia itu tidak layak untuk "dicintai". Kenapa saya bilang begitu? Konsep cinta itu tinggi dan luhur nilainya, dan hanya Tuhan sang Pencipta yang bisa memikul konsep untuk dicintai . Manusia yg dicintai oleh manusia lagi akan merasa terbebani. Jujur saja, misalnya aja lagi pacaran trus sang pacar lagi kesal atau bete, minta ditemanin padahal kita lagi kena macet di jalan. Trus sang pacar marah karena kamu ga bisa nemenin dia saat. Trus ngambek, ribut, dibilang ga setia, ga berkorban, katanya CINTA..hehehehe. Jadi beban kan? Manusia ga akan bisa memikul beban seberat itu. Hanya Tuhan sang Khalik yang ada di mana saja ketika kita butuhkan, yang Maha Mendengar bila kita meminta, yang Maha Memberikan Keselamatan bilamana kita butuh. Jadi dudukkanlah manusia itu pada tempat dan kedudukannya yang benar.

Sesama manusia , cukuplah saling mengasihi dan menyayangi... Sayang di sini... sayang di sana... hehehe upsssss

No comments: