Tuesday, December 11, 2007

Wisdom

Hari ini si Ucok ngirim email dengan attachment yang menarik... Kutipan kata-kata mutiara dari 3 tokoh dunia. Yang paling menarik buat saya adalah kata-kata mutiara dari Adolf Hitler:

IF YOU WIN, YOU NEED NOT TO EXPLAIN
BUT IF YOU LOSE, YOU SHOULD NOT BE THERE TO EXPLAIN...


enjoy ;)

Tuesday, November 27, 2007

Cuci piring

Beberapa hari terakhir ini, sedang hangat-hangatnya dibahasa mengenai 'curhat' pak SBY mengenai 'cuci piring'. Dari sekian publikasi, kalau boleh saya intisarikan adalah pak SBY cs sudah bekerja keras siang malam membereskan berbagai permasalahan yang ditinggalkan oleh pendahulunya.

(pak, kalau gak mau capek, kenapa dulu ngojok-ngojokin diri kampanye untuk jadi presiden?)

Kalau mau mempersempit ruang lingkup, kita bisa bercermin kepada diri sendiri. Sudahkah kita 'mencuci' piring-piring kita bekas pesta-pesta terdahulu? Di sini bisa di-interpretasi-kan mencuci dengan tiga makna:
- mencuci dalam arti membereskan permasalahan
- mencuci dalam arti menyembunyikan permasalahan
- mencuci dalam arti memecahkan permasalahan

mencuci = membereskan
Ini yang sepatutnya dikerjakan oleh manusia yang mengaku 'berbudi-pekerti' dan 'berahlak', di mana manusia akan menyetop perbuatan jelek, berubah menjadi baik dan meningkatkan kebaikan-kebaikan tersebut.

mencuci = menyembunyikan
Ini ibaratnya kita nyapu di rumah, tapi sampahnya disembunyikan di suatu tempat (di bawah karpet misalnya.... ayooo ngaku aja jek! we did it many times). Ini yang sering kali mendatangkan bom waktu.

mencuci = memecahkan
Saya baru sadar beberapa tahun terakhir ini, kata-kata "memecahkan masalah" sering digunakan dibandingkan "menyelesaikan masalah". It's totally different meaning. Perhaps people makes an analogy of "solve the problem" and "break the secret". If the approach is : problem = secret, than "solve" = " break", then we will end up with lots of small problems.

Dari sekian asumsi, silahkan dipilih mana yang paling cocok. Yang patut menjadi catatan adalah, proses 'pencucian' tidak otomatis membuat apa yang sudah ditinggalkan menjadi 'bersih' (bersih ini = dilupakan).

Bisa diambil contoh, di satu chain restoran di Indonesia, baru-baru ini di'isu'kan bahwa makanannya mengandung 'kecoa' (foto nya dilampirkan juga sih, jadi apa masih isu ato ndak, terserah masing-masing deh). Nah piring yang difoto bisa dicuci bersih sehingga bekas kecoa nya akan hilang. Tapi akankah orang-orang melupakan apa yang dulu pernah terjadi di piring itu.

Mistakes can be forgiven, but it couldn't be forgotten... kalau bisa dilupakan, kenapa diciptakan neraka oleh Tuhan?

Tuesday, October 16, 2007

Ngantor

Sekarang baru hari ke-5 lebaran (agak aneh, di Indonesia sering didefinisikan hari ke - x lebaran.. emangnya lebaran bisa berapa hari ya?). Inilah waktu di mana orang2 ndeso seperti saya ini bisa menikmati kerja di kota jakarta. Dari rumah saya yang berjarak 26 km ke kantor, cuman ditempuh dalam waktu 30 menit (tadi pagi malah cuman 20 menit, supir teksi nya agak selebor, lari 140 km/jam). Barulah slogan "Enjoy Jakarta" yang didengung2kan oleh pak mantri dan pak gubernur bisa saya nikmati. Bayangin aja, utk perbandingannya, saya membutuhkan waktu paling cepat 1 jam 15 menit (naik bus, excluding perjalanan dari rumah ke terminal bus dgn ojek). Rumah saya termasuk di daerah "remote area" nya jakarta. Tapi diuntungkan dengan berbagai moda transportasi yang bisa saya gunakan (jadi inget mata kuliah transportasi multi moda nya pak Satriyo.. met pagi Pak Dirjen...). Berikut gambaran alternatif2 apa saja yang bisa saya ambil (berikut perhitungan biaya), dimulai dengan yang paling convenient (bukan berarti paling convenient itu paling mahal lhooo...)

1. Nebeng pak menejeur yg tinggal 1 kompleks, kerja 1 gedung.
ini bener2 no cost. Disamping dijemput ke rumah, naik new accord yg baru, ga usah patungan bayar tol, tiba2 nyampe di kantor. Modalnya cuman silahturahmi (sama kadang2 dijadiin bumper kalo ada keperluan 'lelaki'..hehehehe)

2. Naek teksi silferberd yang mercy.
High cost. Ongkos telp. Rp.150. Toll Rp. 7,000. Ongkos teksi Rp. 120,000. Total Rp. 127.150. Agak2 kena macet juga di jalan, cuman enaknya ada radio di dalem teksi nya (sama mati gaya!!!)

3. Naek teksi bluberd yg biasa.
Medium cost, bisa ngirit kira2 Rp. 50,000 dibandingin no. 2 di atas. Naek ojeknya mas Parno / si Anto Rp. 5,000. Waktu tempuh sama (masih kena macet), ga ada gaya sama sekali. Bisa sambil baca2 koran.

4. Naek teksi Mersindo (tarif lama)
Medium cost. Naek ojek Parno/Anto Rp. 5,000, ongkos toll Rp. 7,000, tarip teksi Rp. 50,000. Enaknya sama dengan naek bluberd (teksinya baru2).

5. Naek bus feeder
Low cost. Naek ojek Parno/Anto Rp. 5,000, trus naek bus Rp.10,000 sampe depan kantor. Waktu tempuh kira2 lebih lama 20'an menit (maklum bus, boyot!). Tp ada 'stand-by' time kira2 10 - 15 menit. Kalo enggak, bisa2 duduk di kursi plastik (can you imagine, sit on a plastic chair on the bus for almost 2 hours! I did it!!! many times....).

6. Naek mobil sendiri
Medium cost. Bensin kira2 3 liter (premium @ Rp. 4,500/l). Toll Rp. 7,000. Lubricant @ Rp.500 / km = total2 Rp 24,500. Sekali jalan. Belum termasuk ongkos marah2, ndongkol, deg2an karena nembus tri in wan. Enaknya, flexible. Ga usah ngetem2 di dalam bus, pulang pun bisa semau mau, ga usah nunggu2 bus di pinggir jl. sudirman. Waktu tempuh bisa lebih cepet dari teksi.

7. Naek kereta api
Medium cost. Naek ojek Parno / Anto Rp.20.000 (agak jauh dari rumah, sama kasian aja). Naek kereta Rp.9,000. Beli koran Rp2,000 (untuk alas duduk). Waktu tempuh paling cepet. Cuman 30 menit (excluding waktu tempuh ojek dari rumah ke stasion KA kira2 10 menit, nunggu kereta bisa kira2 15 menit). Dari stasion kereta, naik teksi Rp 20,000 ke kantor. Ini opsi dipilih kalo udah kefefet bangun kesiangan hehehe... Total jendral, waktu yg dibutuhin kira2 1 jam lah max.

8. Naek omprengan
Low cost juga nih. Naek ojek Parto / Anto Rp. 5,000, nunggu omprengan (ga pasti nih, ini yg bikin beteh beibeh). Omprengannya sih murah, cuman Rp. 7,000 perak doang. Tp kadang2 suak dijejel2in kayak sarden (maklum, gue yang berbodi tambun ini agak 'makan tempat' kalo di dalam mobil omprengan, suka dipelototin sama ibu2).

Banyak juga ternyata opsi nya. Mana yang saya pilih? ga tentu juga.. semua ada enak ga enaknya. Sama seperti hidup ini, ada enak dan ga enaknya. Perlu ngerasain ga enak biar tau "enak" itu seperti apa. Kalo enak terus, nanti jadi kebal...mati rasa.

Sunday, October 7, 2007

Idul Fitri

Lebaran tahun ini lagi-lagi diwarnai dengan perbedaan pendapat antara yg berlebaran tgl 12 Oktober (katanya orang2 yang menganut aliran Muhamadiyah) dan yang selain aliran itu berlebaran tanggal 13 Oktober. Kenapa ya kok selalu berbeda (dan ini kejadian sudah sering sekali, hampir tiap tahun).

Beberapa artikel di WebSite Indonesian Crescent Observation membahas mengapa sampai terjadi perbedaan interpretasi ini (dan sampai skrg kalo saya baca artikel2nya, kaga ngerti juga. Masih terlalu bodoh saya ini).
Ini gambar dari salah satu artikel yg kayaknya memberikan gambaran paling mudah kenapa terjadi perbedaan.

Jadi menurut gambar di sebelah, sebagian Indonesia akan memasuki 1 syawal di tgl 12 Oktober, sedangkan sebagian lagi di tgl 13 oktober.
Berdasarkan perhitungan Hilal atau Rukiyah, mungkin kedua-duanya benar. Cuman yg sering menggelitik saya adalah, sebagai umat Islam di Indonesia, apakah sebaiknya kita bersatu. Yang namanya perbedaan memang sudah diciptakan oleh yang Maha Kuasa supaya ada kehidupan (bayangkan kalo sama semua, kayak robot kali hidup ini). Yg penting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan ini.
Masih banyak yg lebih penting untuk didiskusikan bersama antara penganut2 mashab ini, terutama masalah kemerosotoan ahlak yang makin membabi buta akhir2 ini.

Wednesday, October 3, 2007

Feel happy

It's always great to meet your friends, regardless new ones or old ones.

Kemaren sore saya ngumpul lagi dengan teman2 ex-Conoco yg skrg sebagian sudah ga bekerja di sana lagi (dan tentunya sebagian masih bekerja di Conoco). Kenapa ya, ngumpul sama teman2 itu menyenangkan? is it a matter of friendships (spt yg Gita tulis di comment blog ini)?

Mungkin iya, yg jelas kemaren kita ketawa2, mengingat2 lagi kejadian masa lalu yang konyol, dan diakhiri dengan rencana untuk pertemuan berikutnya dengan berkaraoke.
Waktu ngumpul2 itu, salah satu rekan bilang "enak ya ngumpul2 gini, bisa melupakan kerjaan kantor yang ga menyenangkan".
Dari sana, saya ambil kesimpulan bahwa perasaan senang kita sangat bergantung kepada lingkungan kita. Kalau lingkungannya menyenangkan, jadi senang, kalo ga menyenangkan, jadi bete. Berfluktuasi mengikuti kondisi di luar.

Di sisi lain, ada pemeo yang sering dikeluarkan oleh teman2 saya alumni M91 (paling sering keluar dari kepalanya Ludi), yg bunyinya " Hapiness is a state of mind ". Jadi kebahagiaan itu berasal dari dalam diri sendiri, bukan tergantung dari kondisi di luar. Jadi pendapat yang bersebrangan... padahal secara sadar ato ga sadar, kita mengakui kedua kondisi di atas.

Kalo saya pribadi, saya akan pilih kondisi yg kedua, di mana kondisi kita tidak bergantung pada lingkungan sekitar. Hapiness is a state of mind, so we can always be happy, wherever, whenever, or with whoever. Enak soalnya kalo rasa senang itu dateng dari dalam diri sendiri, jadinya bisa senang terus. Siapa sih yg mau senang terus sepanjang hidupnya?

Dengan rasa senang, semua masalah bisa teratasi dengan baik.

Caranya?....

ikhlas...

Marry & Divorce

Topik yang menarik untuk diangkat. Agak lama pemikirannya karena harus hati2 menuangkan dalam bentuk tulisan (untung dapet waktu bbrp hari ngelamun di KL sambil ngeliatin Twin Tower malem2 dari kamer hotel).

Waktu pas mau merit, pasti ada yg diharapkan dari suatu perkawinan. Dapet pasangan hidup yang cocok, susah senang bersama (hwalah!!!), bisa sharing, saling mengisi, saling mencintai. Ada juga yang langsung paranoid. Tahan gak ya hidup sama orang yg sama bertahun2, nanti gimana ya apa dia akan sukses ato melarat. Nanti dia main serong gak ya (hehehe... ayo yg suka paranoid, ngaku aja!)

Menurut pendapat pribadi saya (sekali lagi ini pendapat pribadi, kalo mau punya pendapat lain, monggo...). Marriage is NOT "to give and to take" games. It's a "to give" rule. You give and never asked what you'll get back from it.

Dan sekali lagi, menurut pendapat saya, itulah makna dari perkawinan. Proses pembelajaran untuk menjadikan diri "ikhlas". Makna yang lain adalah proses pembelajaran untuk menjadi mahluk yang "bertanggung jawab". Bertanggung jawab kepada Sang Khalik, Maha Pencipta, yang telah menitipkan "pasangan" kepada kita, untuk yang laki - bertanggung jawab dengan menafkahi, untuk yang perempuan - bertanggung jawab dengan berbakti.

Kedua2nya akan bertambah tanggungjawabnya kalo Tuhan menitipkan anak (tanggung jawab utk merawat, mendidik dan membesarkan). Mungkin ini dicontohkan dalam hubungan antara anak dan orang tua, di mana kejelekan / keburukan anak akan selalu (diusahakan) untuk ditutupi oleh orang tua. Jadi diibaratkan, ambilah contoh hubungan antara anak & orang tua untuk diterapkan ke dalam kehidupan perkawinan.

Kenapa banyak terjadi perceraian? Karena konsep to take and to give tadi itu dipakai sehingga perasaan "sudah memberi tapi kok belum menerima" menjadi makanan sehari2. Ditumpuk dari hari ke hari, akhirnya meledak (bisa dengan marah, nangis, mutung, etc).

Selain itu, manusia dalam hubungannya dengan manusia masih menerapkan konsep "mencintai" kepada sesamanya, padahal manusia itu tidak layak untuk "dicintai". Kenapa saya bilang begitu? Konsep cinta itu tinggi dan luhur nilainya, dan hanya Tuhan sang Pencipta yang bisa memikul konsep untuk dicintai . Manusia yg dicintai oleh manusia lagi akan merasa terbebani. Jujur saja, misalnya aja lagi pacaran trus sang pacar lagi kesal atau bete, minta ditemanin padahal kita lagi kena macet di jalan. Trus sang pacar marah karena kamu ga bisa nemenin dia saat. Trus ngambek, ribut, dibilang ga setia, ga berkorban, katanya CINTA..hehehehe. Jadi beban kan? Manusia ga akan bisa memikul beban seberat itu. Hanya Tuhan sang Khalik yang ada di mana saja ketika kita butuhkan, yang Maha Mendengar bila kita meminta, yang Maha Memberikan Keselamatan bilamana kita butuh. Jadi dudukkanlah manusia itu pada tempat dan kedudukannya yang benar.

Sesama manusia , cukuplah saling mengasihi dan menyayangi... Sayang di sini... sayang di sana... hehehe upsssss

24 hours

Pernah ngerasa kalau 1 hari 24 jam itu kurang? Saya pernah ajak rekan saya, seorang manajer, untuk berlatih golf sepulang kantor. Berulang2 kali saya ajak (karena dia yang minta di ajak), jawabannya selalu "Ga ada waktu Man"... terakhir2, ada imbuhannya yang agak bikin saya terkejut ".. kalau gue bisa beli waktu, gue beli deh tuh waktu"... wah, tajir sekali ya.

Sadar gak kalau 1 hari diciptakan oleh Tuhan sekian jam itu sudah ada takarannya untuk manusia. Manusia yang yang "merasa" kalau 1 hari = 24 jam itu kurang patut dipertanyakan, apa saja yang dia kerjakan? Saya pribadi melihat alasan yang kurang diperhatikan oleh teman2 yg super sibuk itu:
  1. Mengambil terlalu banyak kerjaan (termasuk kerjaan yang harusnya menjadi bagian orang lain) supaya mendapat kredit yang lebih pula
  2. Gak jelas objektif dari apa yang sedang dia kerjakan
  3. Merasa bisa, ga perlu bantuan orang lain untuk mengerjakan sesuatu

Jadi, sebenernya yang dikejar apa sih? emang pasti kalau super sibuk, ngambil semua kerjaan, trus otomatis rating jadi naik? Kenapa ga ambil yang sebisa mungkin ga ada kerjaan, tapi rating naik? Gak mungkin? Bagi Tuhan itu tidak ada yang tidak mungkin...


Maka dari itu, kita harus mensyukuri waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, untuk dimanfaatkan sebaik2nya. Jangan mencari balasan dari kantor / atasan, karena mereka sendiri masih butuh balasan dari yang lebih di atasnya. Cari balasan dari SUMBERNYA langsung.

The price for your pride

Malam minggu lalu, saya berkunjung ke pernikahan saudara saya di daerah kemang. It's a good party eventhough the food was run - out. Anyway, akhirnya gue bareng istri nyambangin restoran di sekitar kemang dan secara gak kebetulan (saya ga percaya dengan kata "kebetulan) bertemu dengan rekan lama di bandung. Omong sana omong sini, sampailah cerita adik angkatan saya yg saat ini sedang naik daun menjadi sutradara muda. Kawan saya ini cerita bahwa si sineas muda ini cukup idealis dengan ide2 nya, sehingga rela saja kelaparan (tidak punya uang untuk makan) demi mempertahankan idealismenya.... Menarik.

Malamnya, saya secara tidak kebetulan juga, bertemu dengan mantan pengawal RI 1 di salah satu rumah paman saya. Ngobrol punya ngobrol, sampailah pada cerita bagaimana para pejabat2 itu berhasil dalam meniti karir. Biarpun sudah bintang 4, kalau ketemu yg lebih atas lagi, bawain sendal pun rela (kasarnya begitu). Masih ada langit di atas langit... Menarik.

Dari kedua cerita di atas yang saya alami kurang dari 4 jam (dan dua2nya cerita nyata) seberapa pantas sih kita mempertahankan idealisme kita. Berapa sih harga diri kita? kalo mau dinominalkan (seperti kerjaan saya sehari2, membuat sesuatu yg intangible menjadi tangible dan akhirnya dibuat slides dalam power point dilihat dalam skala NPV atau ROR). Saya yakin, tidak semua dari kita bisa menyebutkan nominal dengan pasti. Jadi apakah pantas kita mempertahankan harga diri mati2an, sedangkan kita sendiri ga tau harga kita berapa?

Yang pas adalah menempatkan diri kita pada posisinya. Posisi kita adalah mahluk Ciptaan Tuhan. Tempatkanlah pada posisinya. Hargai perbedaan. Kalau memang Tuhan merestui dengan ide idealisme sang sineas tadi, tentunya DIA tidak akan membuat sineas kita kelaparan...Karena Tuhan adalah Dzat yang Maha Pengashi dan Maha Penyayang