Tuesday, August 12, 2008

Team or personal goals?




Well, this couple weeks has been quite exhausting for me (and maybe several colleagues in my office). We just had a wonderful-fun team-building in Bali last week, and we just knew that our drilling program, which has been prepared for at least 4 months, is being cancelled due to rig availability and move it to next year (they said so...)




There is no direct connection between our team building program and our drilling program. The links came across when we had a session in Bali. The drilling man shouted that "common goals" is one of key in building a teamwork. Our advisor replied shortly (and I thanked him for saying this outloud) that "common goals" shall be supported by "team buy-in". It is absolutely true.

This is a story about the team buy-in story, related to our drilling campaign.

Our drilling man insist to have drilling program this year. He mentioned that within 4 months, we can have the first well spud. Okay, when he mentioned about drilling program, it is our company goals, common goals. But when he added with "within 4 months', it became his goals, not common goals anymore? Why? I am not saying that prepare a drilling program within 4 months and following BPMIGAS regulation is an impossible tasks. It will be a possible tasks with God blessing.

I would rather translate the "team buy-in" into "understading team's need". When the drilling man said 4 months, is he really understand that this 4 months is sufficient for his team member to perform the job? And apparently, not all of our colleagues support his "4 months planning" since we are all know there are lots of activities, meetings, approvals shall be passed and honestly we are lack of manpower!

Along the way, "the team" faced many obstacles, hard meeting, long discussion of legal issues, and many others. Some of the colleagues were 'excluded' from the member because they have diferent opinion from the drilling-man. Some of them just try to be 'politely' drag themselves out from the members.

When a person start to insist his goals, then the team goals shifted into personal goals. The man start to forget what his member needs and they were pushed beyond their limit, disregards their quality time with others. Where is humanity goes? There is somethimg missing here....

This what I would say :"understanding people".

When we start to understand people, people will appreciate and give some positive feedback to us. The good relationship (silaturahmi) is what God ask to human being when they live their life on earth.

so then.. i just won my bet....

Thursday, July 10, 2008

Rebutan jadi pemimpin

Tulisan ini diinspirasi pada saat saya ada di musholla Pacific Place di jakarta. Waktu itu ada 3 orang bapak2 mau shalat dan mereka agak lama saling menyilahkan rekan yang lain untuk menjadi imam. Mungkin ini pemandangan yang biasa bagi kebanyakan dari kita.

Saya cuman berandai-andai. Andaikan para pemimpin kita mempunyai sikap seperti itu. Sikap yang seperti apa? Sikap yang tidak saling berebut untuk mendapatkan posisi pemimpin.

Kita semua tau, menjadi imam shalat 'katanya' pak ustadz harus bertanggung jawab akan makmumnya (orang2 yang dia pimpin pada saat shalat). Karena takut untuk bertanggung jawab di hadapan Allah SWT, maka fenomena di atas muncul (ayo jujur... sebagai makmum pasti pikirannya, kalo shalat gue ga bener toh ada imam yang nanggung).

Skrg kita coba refleksikan kejadian pada saat shalat dengan kehidupan sehari (either di rumah tangga, di tempat kerja kita, atau di lingkungan). Apa beda nya dengan kejadian di mushola itu? Kalau mau jujur, sebenernya tidak ada bedanya sama sekali!!! Pada saat di rumah tangga, di tempat kerja, atau di lingkungan, sebagai "imam" punya tugas memimpin umatnya, dan tentunya apa yang terjadi dengan ummatnya (sebagaimana asumsi kebanyakan orang), maka sang pemimpin akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Yang jadi pertanyaan saya adalah, kenapa kalo pada saat shalat (yang jelas2 adalah perbuatan baik), orang2 'takut' menjadi imam, sedangkan pada saat yang lain - yg berhubungan dengan kehudipan dunia, orang2 berebutan menjadi pemimpin? sampe ada yang sikut2an, saling cemooh, tuding menuding, hujat menghujat, memalukan sekali (barusan saya lihat di koran, ada gambar perwakilan PKB berebut no tanda partai utk pemilu 2009 - memalukan!). Kenapa harus berebut? apa mereka tidak sadar apapun yang dilakukan di dunia ini, akan dipertanggungjawabkan di depan Allah? kenapa tidak bisa bersikap santun seperti waktu di musholla itu?

Semoga tidak semua wakil rakyat punya sikap dan mari kita doakan bersama2 agar yang akan menjadi pemimpin itu selalu diberi kekuatan oleh Tuhan (ga perlu ikut menghujat2 lagi lah... capek).

Wednesday, June 18, 2008

?

Saya gak tau mau ngasih judul apa untuk blog ini, karena dari semalam saya nonton di metroTV, trus pagi ini baca detik.com, saya sesaat sempat seperti sedang bermimpi. Apa benar bbrp kejadian di bawah ini, yang menurut saya 'too worst to be true' itu benar2 terjadi di bumi Indonesia ini???

Semalam saya nonton metroTV, acaranya metro realita. Salah satu topik yang diangkat adalah mengenai kondisi petani jagung di daerah Kediri - Jatim. Mereka dituntut (bahkan ada salah satu petani yang dipenjara - walau hanya 1 hari), karena dianggap melanggar hak cipta untuk benih jagung yang mereka buat. Yang menuntut adalah salah satu perusahaan penyedia benih jagung (HA!). Para petani berinisiatif mengembangkan bibit jagung yang lebih baik dan lebih murah karena harga dan kualitas bibit jagung dari perusahaan tsb tidak baik. Saya bukan petani, tp dari segi harga di mana 1 Kg benih jagung dari pabrik seharga Rp 50.000 dibandingkan dengan mengembangkan sendiri dengan harga Rp 15,000 per kg, anak TK juga tau mendingan beli yang Rp 15,000 dan kualitas lebih baik. Kok bisa ya terjadi?

Topik kedua mengenai industri KS (krakatau steel) yang sedang hangat diisukan akan mencari investor (sebetulnya, ceritanya seharusnya ada investor asing yang ngotot pingin beli sahamnya KS). Kalau masih ingat, beberapa belas tahun yang lalu pemerintah membuat suatu aliansi BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis), di mana isinya adalah industri2 yang strategis, di mana pada saat keadaan damai bisa dijadikan sebagai profit center, sedangkan pada saat 'perang' bisa dijadikan sebagai fasilitas strategis untuk pertahanan dan keamanan (PINDAD - PT. PAL - IPTN - KS - INKA - LEN). Kalau sampai KS dijual ke investor, lantas kalo tiba2 terjadi keadaan perang, yang mau supply raw material siapa??? mosok musti beli dari pasar (jadi inget komentar salah satu pengamat geopolitik di acara yang sama, kok TNI-AU punya utang ke PERTAMINA sekian triliun). Logikanya, sama2 milik negara, kas negara kok bisa saling hutang?

Tadi pagi baca detik.com, langsung disodorkan masalah KPK vs KEJAGUNG. Saya udah terlalu malas untuk menulis karena lembaga hukum tertinggi di negara ini terbukti hengki-pengki dengan orang yang terbukti melakukan korupsi (sebenernya dari dulu juga udah ada, tp sekarang lebih terbuka).

Saya jadi berpikir, dengan era informasi yang katanya "timeless and borderless" ini, apa iya membuat hidup saya menjadi lebih nyaman. Ternyata tidak! makin banyak informasi-informasi yang berseliweran, hidup saya makin tidak nyaman dan saya harus pasang tameng dan filter lebih banyak lagi. Sebetulnya, kejadian2 di atas mungkin dari dulu sudah terjadi, cuman kita tidak tau. Dulu di jaman orba, "orang-orang" itu masih rajin memasang filter untuk kegiatan yang agak "miring".

Ternyata antara "nyaman" dan "baik" itu tidak selalu sejalan. Yang pasti, saya jadi harus lebih banyak pasang filter, karena apa yang dimuat di media massa, belum tentu semuanya benar karena apa mungkin menyajikan berita secara menyeluruh dan tidak memihak dalam waktu 30 menit atau 2 - 3 lembar halaman koran? Lagi2 karena penasaran, saya harus menghabiskan waktu lagi untuk mencari2 informasi apakah yg saya lihat / dengar itu benar? Lagi2 menghabiskan waktu saya yg sangat berharga ini, padahal saya bisa menghabiskannya bersama keluarga atau main golf, yang membuat saya nyaman....

Body Boo(b)ster

hehehe.. ini posting cuman sekedar uneg2 aja.

Jadi begini. Title di atas menggambarkan mengenai situasi lingkungan kerja di mana ada salah satu (ato salah banyak) yang menggunakan "body" nya untuk mem-boost kariernya. Apakah salah? enggak juga? wajar kok, namanya juga manusia, selalu pingin dapat lebih.

Saya pikir, kegiatan ini tidak terbatas pada manusia yang berjenis kelamin perempuan saja, tapi juga yang berkelamin laki-laki pun makin sering melakukannya (kalo enggak, ga mungkinlah butik-butik utk cowok menjamur sekarang), seiring dengan makin banyaknya kelamin perempuan yang menjabat posisi penting di perusahaan-perusahaan.

Yang saya perhatikan adalah, ada 2 tipe dari para body boosters ini. Ada yang berusaha bebenah diri karena dia tau bahwa body booster ini umurnya hanya sekitar 3 x panen jagung setelah itu langsung terjun bebas, ada yang kaga belajar2 dan berharap body booster ini bisa bertahan cukup lama (seperti umur mobil yang bisa sampai belasan tahun).

99% pengamatan menghasilkan, kategori pertama akan dapat mencapai posisi puncak dengan cepat dan bertahan (walaupun banyak yang sirik... pasti lah). Nah yang kategori kedua, biasanya terjun bebasnya juga cukup cepat (dan kasihannya, begitu dia jatuh tidak ada orang yang bersimpati - karena pada sirik itu tadi)... yang terjadi adalah menjadikan dirinya piala 'bergilir'... upsss

Intinya, males gak sih kalau disamping elu ada orang cantik / ganteng, tp begitu diajak ngobrol ga pernah nyambung atau salah melulu??? males lah yawwwwwww.........

Wednesday, April 2, 2008

Absolute planning

Manusia diberi akal pikiran oleh sang Pencipta untuk digunakan sebaik-baiknya. Ini mungkin faham yang diterima oleh hampir setiap manusia. Interpretasi dari 'digunakan' ini yang sering menjadi perdebatan. Sampai seberapa jauh sih akal dan pikiran ini boleh dipakai oleh manusia?

Kerjaan saya sehari-hari sangat erat hubungannya dengan yang namanya "perencanaan". Sering saya lihat, proyek yang direncanakan dengan sangat matang, lengkap, hati-hati, diawasi dan dikerjakan oleh manusia dan peralatan yang canggih, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan (kalo tidak schedule nya mundur, budget bengkak, ato spec nya meleset). Ada apa ini?

Ternyata, akal dan pikiran manusia masih belum mampu mengeliminasi semua resiko yang akan dihadapi pada saat proses eksekusi proyek (walaupun sudah ada risk mitigation plan yang canggih). Ada satu faktor yang ikut menentukan (dan malah sangat menentukan) apakah proyek tersebut akan sukses atau tidak. Dia-lah sang Maha Menentukan, dimana mungkin less than 1% kesuksesan dari proyek ditentukan dari perencaan yang matang, dan 99% lebih adalah kuasa-Nya. Tetapi, tentunya ada hubungan antara usaha 1% tsb dengan impaknya terhadap yang 99% tadi. Jika si 1% dilaksanakan sesuai dengan perintah-Nya, yang 99% akan mengikuti. Tp kalau yang 1% nya udah coba-coba meniadakan sifat Yang Maha Kuasa", jangan coba-coba 99% nya akan ikut.

Belum pernah saya liat di dalam laporan RCFA (Root Cause Failure Analysis), disebutkan bahwa team lupa meminta ijin dan blessing-Nya sebelum proyek dimulai sehingga terjadi delay atau over-budget, atau ada accident. Inilah yang sering pelatih saya sebut dengan KEMINTER (too smart - in wrong direction).

Jadi kalau kita jujur dan memang mengakui keberadaan Tuhan, Dzat yang Maha segala-galanya, sebetulnya proses perencanaan tanpa melibatkan Tuhan itu useless.

Analogi sederhana. Kalo kita mau membuat proyek, minta dukungan (kasarnya beking) dari bank. Kalo tiba2 bank nya collaps, kita mau bilang apa. Tp kalo dukungannya langsung dari yang Maha, ya silahkan di jawab sendiri. Pilih mana.

Sebagai manusia, kita harus bisa menempatkan akal pikiran kita, karena pada akhirnya kita akan sadar bahwa kita sebagai manusia itu tidak mampu apa-apa tanpa pertolongan-Nya dan bala tentaranya yang diutus membantu kita.

Friday, February 22, 2008

Democracy... is it the best option?

Saya memerlukan waktu agak lama untuk mencerna, apakah memang demokrasi adalah sistem pemerintahan yang paling bagus saat ini. Dari asalnya, demokrasi (ngenglish) = democracy, demos + kratos, yang kata orang2 diterjemahin sebagai pemerintahan (oleh) rakyat.

Dari arti harfiahnya saja, kalau kita mau jujur, kayaknya aneh. Rakyat kok memerintah? udah gitu yang diperintah derajatnya sama. Sama-sama masih rakyat. Mau nurut gak ya? (diperintah orang tua aja yang jelas2 derajatnya beda, masih suka membangkan).

Kawan saya memaparkan mengenai kenapa konsep demokrasi sering tidak berhasil. Andaikan anda dan sebutlah kawan anda si A, sama-sama tukang becak. Dalam 10 thn, anda masih jadi tukang becak, sedangkan A sudah menjadi presiden karena 'dekat' dgn salah satu partai tertentu. Pertanyaannya:

1. Apakah anda akan menjadi respek thd si A yg skrg jadi presiden? Jawabannya bisa Ya dan Tidak. Kalau A pada saat masih jadi tukang becak bersikap baik kepada anda, dan setelah jadi presiden tetap baik, mungkin anda akan respek. Kalau sebaliknya, anda paling bilang.. "ah, lupa kacang pada kulitnya"

2. Tukang becak jadi presiden, 99% diyakini pasti ada bohir di belakangnya (baca: partai). Nah pada saat jadi presiden, apakah yang pertama dilakukan? Kepentingan bohirnya terlebih dahulu, kepentingan keluarga sendiri, ato kepentingan rakyat banyak? (ha!)

Point 2 di atas secara tidak langsung menggambarkan bahwa pada sistem demokrasi, pemerintahan akan dikendalikan oleh partai yang menjadi pemenang pemilu. Lantas DEMOKRASI nya di mana??? Karena parta tidak sama dengan rakyat.

Karena sistem pemerintahan demokrasi ini dibatasi oleh umur (biar katanya semua orang, termasuk tukang becak tadi yg disebut di atas punya kesempatan jadi presiden), maka sasaran pemerintahannya pun dibuat pendek-pendek, karena mungkin pada satu periode, partai X menang, periode berikutnya, partai Y yang menang, sedangkan untuk kampanye tentunya butuh dana. Balik lagi ke bohir (hehe...hidup bohir!!!).

Jadi sebenernya gimana sih? kok ujung2nya selalu berakhir ke bohir alias investor alias orang yang 'punya duit'. Jadi sebenernya utk jadi pemimpin negara itu, harus orang yang kaya. Di dunia ini, yang mana sih yang dari sono nya udah kaya (sehingga bisa memutus rantai 'bohir')?

Jika anda punya waktu luang, silahkan buat studi singkat. Buat list negara-negara yang anda kenal, search dengan wikipedia. Lihat.. apakah di negara tersebut ada raja nya ato enggak.....

Wednesday, January 9, 2008

Ke-Malu-An

Asal katanya Malu. Malu karena melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan.

Pernah berpikir, kenapa kalo sedang malu, yang ditutupin adalah muka, sedangkan kemaluan didefinisikan dengan alat kelamin yang letaknya lumayan jauh dari muka?

Jadi sebenernya, kemaluan itu yg mana ya?